(Rela)wan - 2

Setelah sebelumnya saya cerita tentang pengalaman pertama saya menjadi relawan. Nah sekarang, boleh kan dilanjut cerita pengalaman yang kedua? Boleh lah ya, ini kan blog saya hahaha. 

Pengalaman jadi relawan yang kedua ini datang saat bulan Ramadhan, tepatnya bulan Mei 2018 (juga). Bermula dari Mba Tiwi yang super cantik, baik, sholehah dan pernah beli gamis jualan saya hehehe, tapi kurangnya cuma satu, yaitu jodoh. (Semoga secepatnya ya mba, dikhitbah sama abang Salim). Eh malah deskripsi, untung bukan narasi ataupun orasi.

Ya, bermula dari Mba Tiwi yang kirim foto open recruitment mentor via WhatsApp. Dia seperti mau ngajak bareng untuk daftar tapi akhirnya dia malah mengurungkan niatnya untuk daftar. Ya jadi daftar sendiri deh. Gambar dibawah ini foto yang dikirim oleh Mba Tiwi. 
Jadi di lowongan mentor ini ada beberapa syarat. Misalnya, harus beragama Islam (karena nantinya kita akan mengajarkan kepada anak-anak peserta pesantren anak tersebut untuk belajar sholat, sedekah dan Tilawah Al-Qur'an). Nah itu baru syarat yang pertama. Syarat yang kedua yaitu calon Mentor harus berkomitmen untuk hadir selama 2 hari berturut-turut. Alasannya karena acara pesantren anak tersebut memang diadakan selama 2 hari yaitu  Sabtu dan Ahad makanya sebagai mentor harus bisa pastikan kehadiran selama 2 hari itu.  dan Syarat yang ketiga adalah calon mentor harus hadir dalam pelatihan mentor. Kalau syarat ketiga ini alasannya karena nantinya calon mentor akan menghadapi anak-anak usia 5 sampai 15 tahun  maka calon mentor harus tahu dan paham sikap anak dan bagaimana cara menghadapi anak-anak di usia tersebut.

Jadi 2 minggu sebelum pesantren anak diadakan, saya hadir di sesi pelatihan mentor, lokasinya di Aula Selatan Masjid Ukhuwah Islamiyah UI, Depok. Sesi pelatihan dilaksanakan sekitar pukul 9 pagi. Nah, disini ada kendala. Kendalanya adalah di hari yang sama saya juga harus banget hadir di ujian tahsin. Alhamdulillah nya, jam ujian tahsin lebih awal yaitu jam 7 pagi, jadi masih bisa terkejar ya walaupun harus lari dari stasiun pondok cina sampai ke Masjid UI.

Di sesi pelatihan mentor itu, calon mentor dijelaskan macam-macam sifat anak dari usia 5 sampai 15 tahun. Dan calon mentor juga diajarkan beberapa gerakan atau tepukan yang bisa digunakan sebagai jurus jitu ketika anak-anak sudah merasa bosan. Mulai dari tepukan ikan gembung, tepukan good job, tepukan salut sampai tepukan Wir Wir Yang. Ya, kesimpulan dari sesi pelatihan mentor ini adalah kalau jadi mentor ya jangan malu untuk joget-joget didepan anak, ya tapi jangan malu-maluin ya, ada batasnya lah sebagai muslimah. 

Langsung aja, saya mau cerita ketika hari H pesantren anak. Pesantren anak di hari pertama yaitu hari Sabtu di bulan Ramadhan. Para mentor diharuskan datang lebih awal (jam 6 pagi) untuk briefing. Briefing ini pihak panitia menjelaskan teknis keseluruhan acara, pembagian kelas, pembagian nametag, tongkat+bendera dan slayer. Jadi setiap mentor akan dibagi ke kelompoknya masing-masing. Satu kelompok itu berisi 2 mentor. Dan 2 mentor itu akan menjaga, mengatur dan mengajarkan kurang lebih 10 anak. Nah, saya ada di kelompok B13 yang menaungi anak anak usia 6-10 tahun. Di kelompok B13 tersebut ternyata ada 14 anak (di hari pertama) dan 15 anak (di hari kedua).

Kegiatan pertama di hari pertama pesantren anak yaitu nonton bareng dongeng anak. Karena kelompok B13 itu posisinya di hampir paling belakang barisan duduk, ya jadi mayoritas anak-anak kelompok saya jadi enggan buat menonton dan mendengarkan dongeng. Berbagai alasan yang dikatakan oleh anak-anak, ada yang bilang "kak aku pusing", "kak aku laper", "kak aku mau pipis". Sampai-sampai hanya tersisa 3 orang, karena 11 anak berbondong-bondong ke toilet (biasa,  latah lihat temennya ke toilet,  semuanya jadi ke toilet). Nah, disinilah pekerjaan mentor dilaksanakan. Sebagai mentor, saya dan kak Isti (partner mentor saya, yang cantiqqq dan seorang MC papan atas😂) harus mengendalikan para anak-anak untuk tetap dalam barisan duduk, mendengar dan menonton dongeng tersebut. 

Singkat cerita, hari pertama berakhir pada pukul 3 sore. Merasa lelah, pasti. Apalagi sedang puasa. Ingin rasanya langsung pulang ke rumah terbang aja, tanpa harus jalan kaki ke stasiun pondok cina. Lelahku bertambah ketika ada pemberitahuan bahwa mentor harus kumpul untuk briefing. Sebagai mentor memang tak luput dari briefing. Pihak panitia mengingatkan kepada mentor bahwa ada lembar penilaian untuk setiap anak untuk segera diisi di setiap kegiatan acara berlangsung. Jadi, seorang mentor harus telaten memperhatikan anak-anak dan terpenting harus hafal nama anak-anak. 

Lanjut aja, di hari kedua pesantren anak. Tidak seperti hari pertama, hari ini mentor kumpul jam 7 untuk briefing. Setelah briefing selesai, setiap mentor harus standby di titiknya masing-masing agar ketika anak-anak datang, anak-anak dapat langsung menghampiri mentornya masing-masing. Dan tidak seperti hari pertama, di hari kedua ini partner mentorku izin untuk hadir terlambat. Kak Isti akan datang jam 1 nanti. Oke, mungkin saya bisa menangani anak-anak, seorang diri. 

Lama kelamaan, anggota kelompok B13 akhirnya berkumpul lengkap tapi tanpa Kak Isti. Anak-anak pun mulai bercerita tentang keseruan hari kemarin. Saya pun meladeni obrolan mereka. Sambil menunggu acara pertama dimulai, saya dan anak-anak mencoba bermain teka teki. Ditengah permainan teka-teki, salah seorang anak kelompok B13, yaitu Najma bertanya kepada Kiara mengenai penyebab tangisannya di hari kemarin. Ya, saya lupa menceritakan sebelumnya bahwa Kiara tiba-tiba menangis ketika sedang membuat ketupat kertas. Sebagai mentor juga harus sigap ketika ada yang bosan, menangis dan bertengkar. Sikap keibuan pun muncul ketika melihat anak menangis hahaha, saya harus mendekati Kiara, menanyakan penyebab Kiara menangis, merangkulnya, membuat Kiara berhenti menangis dan melanjutkan ketupat kertasnya. 

Di hari kedua, ada kegiatan bekerjasama dengan anggota kelompok dalam membuat maket masjid. Disini sikap tolong menolong, kerjasama, kritis dan kreativitas diuji. Di kegiatan ini anak-anak antusias banget.

"Kak aku bikin kolam ya" ; "Kak yang ini aku tempelin dimana ya" ; "Kak aku mau gunting ini" ; "Kak aku buat burung ya buat ditaro di atas kubah masjidnya" ; "Kak tolong pasang kubahnya" ; "Yah kak harusnya kita warnain dulu jangan ditempel dulu" ; "kak pagernya gabisa diri" 



Itulah beberapa omongan yang disampaikan anak-anak. Saya, yang seorang diri menanggapi anak-anak, mengikuti segala permintaan mereka agar tercipta maket masjid yang mereka inginkan. Setelah maket masjid selesai dibuat, saya bersama anak-anak gotong royong membawa maket tersebut ke pihak panitia. Ada saja yang berebut ingin membantu mengangkat maket itu. Disaat ingin foto full team dengan maket masjid, ada saja anak yang lari-larian, ke toilet, main-main. Anak yang lari-larian sudah ditangkap, yang lainnya malah gantian lari-larian.  Disitu saya merasa lelah. 

Hari kedua memang tidak seperti hari pertama. Hari pertama, saya pulang tidak membawa apa-apa. Sedangkan di hari kedua, saya pulang bawa banyak makanan. Nasi box, snack dan sepaket roti + teh botol yang diberikan oleh salah satu bunda dari anak kelompok B13. 

Langsung saja ya kesimpulan dari pengalaman kedua saya menjadi relawan. Kali ini saya jadi belajar gimana rasanya punya adik banyak. Saya jadi tau gimana menghadapi mereka-mereka ketika badmood. Sama seperti faedah pengalaman relawan pertama, saya jadi dapat teman baru, mulai dari mahasiswi, perawat sampai desainer.

Alhamdulillah, pengalaman seharusnya dicari jangan ditunggu datang menghampiri. 

Komentar

Postingan Populer